Minggu, 06 Maret 2016

Familiarization Tour bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah



foto sebelum pemberangkatan di kantor Dinbudpar Jateng


Hoooolllllaaaaaaa... nihao! Kali ini aku mau cerita pengalaman perjalanan yang sangat luar biasa. Karena, ini merupakan perjalanan atau trip yang spesial menurutku. Pada bulan Agustus tahun 2015 kemarin (wah udah lawas banget ya? Maapkeun baru sempet nulis, hehe) aku bisa mengikuti program Familiarization Tour atau biasa dikenal dengan Famtour bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Waaaah asyiiikkk banget yaaa? Kok bisa sih? Hehe. Ya bisa dong, soalnya sejak bulan Juli-Agustus 2015 aku magang di Dinbudpar bareng 3 orang rekan ku dari FIB UB, yaitu Endang dan Lantip. Btw, kami kenal sejak jaman maba lho waktu ospek kita sekelompok bareng padahal beda jurusan. Mereka berdua jurusan Bahasa dan Sastra Prancis, tapi bersyukur banget bisa akrab sampe sekarang.

Nah, apa sih program Familiarization Tour itu? Jadi, program Famtour merupakan program kerja dari Dinbudpar Jateng untuk mengenalkan wisata dan kebudayaan Jawa Tengah kepada para pelajar dan mahasiswa asing yang sedang belajar di Jawa Tengah. Waah seru kayaknya? Iya dong pasti seru, soalnya aku bisa trip bareng para bule, hahaha. Alhamdulillah, rejeki anak magang yang baik. Famtour periode tahun 2015 ini kita bakalan mengunjungi kabupaten Purbalingga dan Banyumas. Wiiiiih tau kan daerah itu? Itu lho itu... daerah yang ngomongnya ngapak-ngapak luchuuuu, hahahaha...

Okey, famtour ini kita akan menelusuri wisata di Purbalingga dan Banyumas selama 3 hari 2 malam mulai tanggal 20-22 Agustus 2015. Hari pertama, kita bakalan menjelajah indahnya gua lawa yang di Purbalingga. Pengalaman yang paling seru di gua lawa ini adalaaaaah... susur gua! Yeaaay! Seru banget lho kegiatan susur gua ini. Kita masuk ke gua lawa yang sangat sempit sampai merangkak dan sekujur tubuh ini dipenuhi lumpur. 

 


susur gua lawa

bule Denmark merangkak saat susur gua lawa

Setelah susur gua lawa di Purbalingga, kita langsung menuju ke Purwokerto dan sampai saat mentari sudah mulai tenggelam. Kita langsung check ini di sebuah hotel di tengah kota dan persiapan menonton pertunjukan wayang kulit dalam rangka HUT kabupaten Banyumas. Kenapa nonton wayang kulit? Soalnya kan kita pergi bareng para bule, jadi harus dan wajib mengenalkan kesenian tradisional Indonesia ke mereka kan? Nah disini lah salah satu tujuannya diadakan famtour ini. Para bule excited banget lho nonton pertunjukan wayang. Sejujurnya, ini juga pertama kali aku nonton wayang kulit yang bener-bener nonton sungguhan. Soalnya biasanya Cuma liat sekilas aja.
 
tempat pagelaran wayang kulit
Sebelum pertunjukan wayang kulit usai, kita harus udah kembali ke hotel karena besok pagi-pagi banget jadwal panjang sudah menanti. Fyi nih, aku kebagian sekamar sama bule Mesir yang sedang belajar di Unisula Semarang and his name is Youseph. Pukulan berat buat aku because I can’t speak english well. Jadi ini konyol banget 2 malam sekamar bareng dia tapi gak dapet obrolan yang bagus. Aku udah memberanikan diri untuk tanya tapi setelah dia ngomong aku ga paham, hahaha.  Dia nanya tentang karimun jawa, tapi karena aku ga paham dia nanya apaan, jadi aku kasih aja hasil searching dari simbah google and he must read it without explanation from me. So sorry Mr. Youseph. Coba aja bule cina aku kan masih bisa dikit-dikit ngomongnya. Sudahlah sekian curhatnya yaaa...

Hari kedua kita bakal menjelajah Purwokerto ke desa Karangsalam Banyumas/Purwokerto. Jadi seharian kita bakal melakukan kegiatan yang alami banget dan tradisional. Kalo aku mah udah biasa ya karena emang orang desa. Tapi buat para bule ini kegiatan yang sangat berkesan buat mereka pastinya. Kita mulai dari menjelajah curug telu dan curug bidadari sampai siang hari. Sebelum ke curug telu kita ke curug bidadari dulu dan menikmati pertunjukan musik dari air oleh kelompok seni desa wisata Karangsalam. Jadi mereka memainkan musik jazz dengan cara memukulkan tangan ke air sehingga bisa menimbulkan bunyi dan suara yang keren abis lah pokoknya. Lalu kita menuju ke curug telu dan basah-basah ria main air. Seru abis!
para bule sangat senang naik pick up menuju curug telu
pintu masuk curug telu

para bule harus jalan kaki menuju curug telu

Add caption


para bule sangat senang main air

Tengah hari, usai dari curug kita langsung disuguhkan hidangan tradisonal khas desa wisata Karangsalam Banyumas yaitu beberapa makanan tradisional seperti nasi yang dibungkus sangat unik memakai daun yang aku tak ketahui itu daun apa. Enak banget sumpah makanannya ini. Mungkin karena laper juga kali ya, hahaha dasar. Trus juga ada jajanan tradisional gitu yang aku sudah pernah memakannya. Tapi para bule sangat menikmatinya karena ini pengalama pertama mereka. Oh iya, kita makan siangnya di sebuah gubuk tengah sawah lhoooo, asik banget kan? Diiringi sama musik tradisional khas Banyumas lagi sama ada penari cantik yang menarikan lengger banyumasan. Keren banget lah pokoknya! Para bule juga ikut menari dan main musik tradisionalnya lho.
nasi khas desa wisata Karangsalam yang dibungkus daun unik

jajanan tradisional

satu paket menu makan siang khas desa wisata Karangsalam

ini nasi, unik ya? ada yang tau daun apa?
 
bule Denmark dan Jepang ikut main musik tradisional

bule Jepang dan Solomon Island ikut menari tradisional


Usai istirahat sejenak di hotel, malam harinya kita menghadiri undangan pak gub Ganjar Pranowo ke acara HUT kabupaten Banyumas lho. Jadi itu kayak ada acara semacam malam seni gitu yang menampilkan seluruh kesenian tradisional dan yang menjadi unggulan dari tiap kabupaten/kota di Jawa Tengah. Pengalaman yang luar biasa karena aku bisa duduk diantara pejabat penting pemda Jawa Tengah lho, sekitar 6 baris kursi di belakangnya pak gub lah sepertinya. Terharuuuu! Nah, di acara ini kita wajib pake baju adat dari daerahnya masing-masing lho. Para bule pada pake baju dari negaranya masing-masing. Ada baju nasional Denmark, Jepang, Mesir, Papua Nugini, Kepulauan Solomon. Karena kurang persiapan akhirnya aku Cuma pake baju qipao atau baju khas Cina tapi dikombinasi sama batik hasil desainku sendiri, hehehe. Aku jadi bule cina nih ceritanya, hahaha. Acara belum usai kita udah balik ke hotel soalnya capek banget dan besok masih ada kegiatan lagi. Padahal aku belum liat penampilan dari Pemalang, kabupatenku tercinta.
 
mampir ke toko oleh-oleh mendoan khas Purwokerto
Hari ketiga, kita kembali lagi ke Purbalingga untuk melihat pembuatan rambut dan bulu mata palsu yang sudah mendunia karena di ekspor ke berbagai negara terutama ke Korea yaitu desa wisata Karangbanjar. Kita dijelaskan proses pembuatan rambut dan bulu mata palsu dari awal sampai akhir produksi. Sangat menarik sekali karena diceritakan langsung oleh pendiri industri tersebut yang sudah tua karena memang industri ini sudah puluhan tahun. Uniknya itu industri ini tidak ada pabriknya, tapi ya industri rumahan yang melibatkan seluruh warga desa. Tapi jangan diragukan untuk kualitasnya ya karena udah ekspor ke berbagai belahan dunia.
Tujuan terakhir yaitu ke museum reptil dan uang Sanggaluri Park Purbalingga. Selain belajar tentang reptil dari berbagai belahan dunia, kita juga belajar sejarah Indonesia dan fun science lho. Seru banget lah, asik!
museum reptil dan uang Sanggaluri Purbalingga

belajar main wayang kulit di Sanggaluri Purbalingga
 
para bule melihat proses pembuatan rambut palsu di desa wisata Karangbanjar Purbalingga
So, trip 3 hari 2 malam ini sangat berkesan dan memberikan banyak banget pengalaman serta pembelajaran buat aku. Terima kasih untuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah, ibu Sumartini yang sudah mengajak saya, ibu Suci, dan semua peserta Famtour 2015 ini. Saat menuliskan ini aku jadi rindu pengalaman magang di Dinbudpar yang udah memberikan banyak sekali ilmu yang tidak bisa aku dapatkan di bangu kuliah. Sekali lagi terima kasih! that's was so amazing experience!
foto bersama di desa wisata Karangsalam Purwokerto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar